TULISAN INI  SAYA BUAT “SECEPAT KILAT”
TENTU JAUH DARI MEMADAI.

TETAPI MUDAH-MUDAHAN DAPAT SEDIKIT MEMBERI GAMBARAN TENTANG JEJAK LANGKAH SAYA.

APABILA ADA KAWAN-KAWAN MASA LALU SAYA YANG BISA MEMBERI INFORMASI TENTANG “SAYA”, DENGAN DATA-DATA YANG AKURAT DAN VALID, MAKA SAYA AKAN SANGAT TERBUKA MENERIMA.

UNTUK PARA PENGGEMAR KARYA-KARYA SAYA,
SEMENTARA HANYA INI YANG BISA SAYA SAJIKAN. INSYAALLAH AKAN SELALU SAYA UP-DATE.

TERIMAKASIH, WASSALAM.  

EBIET G. ADE

BAGIAN I

Tanggal 21 April 1954, menjelang subuh.
Desa kecil yang senyap, tengah disiram rintik gerimis. Udara sangat dingin. Angin menyelinap meremas tulang belulang.
Memaksa sebagian besar  penduduk, memilih tidur meringkuk dalam balutan kain sarung.

Kamar di sebuah rumah yang hanya diterangi cahaya lampu petromak, sesak oleh  seluruh penghuni. Mereka tengah berbahagia atas kelahiran bayi laki-laki, yang keesokan harinya diberi nama, Abid Ghoffar.

Ayah si bayi adalah Bapak Aboe Dja’far dan ibunya, Ibu Saodah.
Nama desa kecil hijau dan sejuk tadi adalah Wanadadi. Masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara, “Karesidenan” Banyumas, Propinsi Jawa Tengah.

Almarhum Ayah dan Ibunda tercinta - akte kelahiran saya

Nah, itulah sekelumit ilustrasi keheningan cuaca, ketika gerimis turun menjemput fajar, menyongsong detik-detik kelahiran saya.

Saya bungsu dari enam bersaudara. Kakak tertua saya Mas Achmad Mukodham, sekarang tinggal di Jogja. Kakak kedua Mbak Umi Salmah dan ketiga Mas Ali Muthohar, masih tetap tinggal di Wanadadi. Kakak keempat Mas Mudzakir Zabit, tinggal di Depok, dan kelima Mbak Umi Farchah sekarang tinggal di Purwokerto.  
 
Keluarga kami termasuk keluarga menengah. Dikampung, kami dikenal sebagai keluarga terpelajar, sehingga warga menempatkan kami cukup terhormat.  
Sampai saat ini, saya dan kakak-kakak meskipun tinggal saling berjauhan, tetapi tidak pernah berhenti menjalin komunikasi. Kami saling menghargai serta menyayangi satu sama lain. Dan InsyaAllah akan terjaga sampai akhir hayat nanti.

Ki - ka: Saya, Mbak Aah, Mas Kodam (duduk), Mbak Umi, Mas Har, Mas Dzakir.



Nama Ebiet G. Ade, adalah modifikasi dari Abid Ghoffar AD (Aboe Dja’far). Dan kemudian AD-nya saya permanis menjadi “Ade”.
  
Yang pertamakali memanggil saya dengan sebutan “Ebiet” adalah seorang guru “bule” berkebangsaan Amerika, yang mengajar ditempat saya les bahasa inggris. Saya menduga, barangkali karena dalam bahasa mereka huruf”A”pengucapanya menjadi “E”.
Dan entah mengapa, tiba-tiba saja saya ter-inspirasi menyablon nama Ebiet  di punggung kaos lengan panjang merah yang sering saya pakai.
Sejak saat itu secara perlahan, kawan-kawan mulai memanggil saya dengan nama panggilan baru, Ebiet.
Saya tidak tahu, apakah selain karena karya-karya yang saya buat,
panggilan baru, juga turut mendongrak nama saya menjadi populer atau sesungguhnya mungkin, saya akan lebih “hebat” apabila tetap menyandang nama asli. Wallahua’lam. Hanya Tuhan yang maha menentukan.

Masa kanak-kanak saya tumbuh dalam lingkungan yang sangat religius. Saya tinggal di kampung Kauman, yang tentu saja dekat dengan Masjid. Lingkungan sekitar rumah kami sangat asri, dengan para penghuni yang meskipun bukan seluruhnya kerabat, tetapi semua menyatu layaknya kerabat dekat.

Tahun 1960, saya masuk sekolah dasar di SD Negri I Wanadadi. Sore harinya, saya masih harus belajar di "Sekolah arab", istilah yang dipakai untuk menyebut sekolah memperdalam pengetahuan Agama.

 

Di rumah famili di kampung & Ziarah ke makam

Memang saya didambakan menjadi guru agama oleh Ayah saya yang pegawai negri sipil dan ibu saya yang pedagang kain.
Sayang, saya tidak mampu memenuhi harapan mereka.
Akan tetapi sebagai gantinya, Tuhan telah mempersiapkan jalan lain untuk saya. Dan semoga apa yang saya kerjakan sekarang, tidak membuat almarhum Ayah dan Ibu kecewa. 
Sesungguhnya harapan mereka tidak sepenuhnya gagal, karena lagu-lagu yang saya ciptakan, banyak yang menyuarakan kebaikan dan kebenaran serta mengajak memerangi kebathilan, meskipun dalam porsi dan cara berbeda.
 
Pendidikan dasar, saya selesaikan di kampung. Tidak terlalu pintar, tapi juga bukan anak yang bodoh. Sore harinya saya masih harus sekolah agama. Masa-masa itu, saat matahari bangkit, rimbun ilalang hijau pedesaan, hamparan sawah, gemercik air kali, kabut pegunungan, semilir angin, temaram senja, keheningan malam yang se-sungguh-sungguhnya hening, karena memang belum tersentuh listrik, serta sifat gotong royong khas pedesaan, masih melekat dan rasanya menjadi inspirasi tak ada habisnya di dalam benak saya.

Saya masih  ingat, ada kebiasaan saya yang mungkin dianggap tidak lazim dan sulit difahami orang lain. Ketika anak-anak lain sibuk bermain sepak bola atau permainan lain, saya lebih memilih bersepeda ke satu tempat tertentu hanya untuk menyaksikan Matahari tenggelam menghunjam ke persawahan. Karena saya merasa, pada saat pergantian senja seperti itu, warna langit yang merah keemasan dipadu dengan hijau kekuningan sawah menjelang panen, menjadi keindahan yang sangat luar biasa. Suasana terasa membasuh seluruh jiwa, dan membuka kejernihan fikiran.
Atau… Saya suka ber lama-lama duduk sendirian di tepian kali. Menyaksikan kelak-kelok arus, mendengarkan gemericik, menyentuh kesejukan dan beningnyanya air, menghirup semilir angin gunung.
Semua itu, membuat saya merasa menjadi anak yang paling terpelihara dan sangat bahagia.

Itulah cara menyaksikan  peristiwa alam yang biasa, tetapi terasa luar biasa karena saya rengkuh dengan penghayatan lebih. Tetapi celakanya karena saya masih anak kecil, maka yang terbaca dipermukaan adalah, saya nampak seperti sering melamun dan pemurung.

Tetapi saya menduga, barangkali ritual seperti itulah, yang kelak berpengaruh dalam gaya penulisan lirik, memberi warna dan karakter dalam penataan harmoni, ketika merangkai melodi, untuk lagu-lagu yang saya ciptakan.

Dulu badan saya yang kecil dan kurus, membuat saya kurang suka olah raga, dan sebagai gantinya saya aktif di kegiatan kesenian di kampung.
Antara lain band dan “drumband”. Saya pernah dipercaya menjadi “dirigen” (pemimpin barisan). Tentu bukan karena tubuh saya tegap dan gagah, tetapi barangkali karena saya di anggap faham tempo dan irama.
Atau karena “tambur” terlalu berat untuk anak yang  kurus seperti saya. Yang istimewa adalah kostum yang saya kenakan berbeda dengan yang lain, karena di disain olah Ayah secara khusus. Beliau menjahit sampai setengah jadi, kemudian Ibu yang memberi sentuhan akhir.
Jadilah saya “Jendral Kancil”, komentar IbuWedana, saat menyaksikan saya sebagai pemimpin barisan.

Ada seorang guru yang menjadi pemicu minat saya dan kakak-kakak saya dalam berkesenian terutama musik.
Ia adalah Pak Daryono, guru SD yang kreatif, dan tidak segan-segan membagi ilmunya untuk kami.
 
Ia pernah menghukum saya di sekolah, karena saya sering kurang memperhatikan pelajaran. Ia menyuruh saya membuat peta pulau jawa dengan menggunakan bubur kertas. Yang luar biasa, saya lebih memilih sekalian membuat peta Indonesia. Secara logika saya telah memperberat hukuman saya sendiri, tetapi saya merasa ada keindahan tersendiri dari tekstur dan warna-warni peta Indonesia, sehingga saya merasa lebih asyik dan tertantang serta bersemangat dalam mengerjakanya. Setelah jadi, peta hasil kerja dan kreasi saya, dipajang menempati area terhormat di sekolah. (Ketika di konfirmasi, Pak Daryono mengatakan bahwa, mengapa  saya memilih membuat peta Indonesia, saya menjawab” karena saya satu saat nanti akan terkenal di seluruh Indonesia”). Saya lupa apakakah saya betu-betul menjawab seperti itu atau tidak. Tetapi yang pasti, dari kecil rasanya saya sudah punya kalkulasi dan rela berpeluh demi tercapainya nilai estetika. 

Bakat seni, memang sudah tampak sejak saya masih kecil. Dalam beberapa kali lomba Adzan, saya menang. Lomba menyanyi, saya sering menang, juga dalam menulis puisi, drama dan menggambar. Pendek kata, dalam kesenian saya termasuk menonjol.

Saya juga sering diminta menjadi “bintang tamu” dalam grup musik keroncong pimpinan Pak Camat, yang semua anggotanya orang-orang dewasa, termasuk Bu-lik dan Kakak-kakak perempuan saya sebagai penyanyi utama. Ketika menyanyi, kadang-kadang saya membuat mereka kesal dengan improvisasi yang melenceng dan keluar dari disiplin atau pakem cengkok keroncong yang menurut mereka baku.
Tetapi saya selalu menjadi bagian menarik dari penampilan kelompok musik keroncong  ini setiap kali manggung.

Saya kebetulan bersahabat dengan putra Pak Camat, namanya Waluyo dan kakaknya Hari. Dengan Waluyo, saya pernah berkeliling mencari dan mempelajari “ilmu kanuragan” untuk membentengi diri, karena zaman itu sekitar tahun 1966,, intrik politik paska G30S PKI sering memaksa kami meskipun masih anak-anak, sesekali ikut terlibat gelut (baku hantam). Dan karena badan saya yang kecil, maka saya harus mampu mengerahkan “tenaga dalam” agar tidak selalu menjadi korban penindasan.
Tapi ada yang lebih penting. Dengan bersahabat dengan Waluyo dan Hari, maka saya bisa sering nampang keliling kampung dengan “Lambretta”, kendaraan dinas Pak Camat!     

Ada yang sangat penting dan tersimpan di-dalam ingatan saya bahwa, walaupun Ayah saya pegawai negri, tetapi hobinya bermain biola. Saking seringnya beliau  bermain biola, kepala beliau nampak agak miring, terlihat dalam foto-foto lama keluarga.
Barangkali dari beliaulah mengalir kepekaan musikal, yang kelak menjadi bekal utama hidup saya.

Saya mengenal gitar, sebagai alat musik yang sekarang menjadi senjata andalan, dari kakak saya Mas Dzakir pada saat saya masih di kelas lima SD,sekitar tahun 1965. Pada zaman itu, untuk memiliki gitar dengan harga terjangkau, harus memesan terlebih dahulu. Saya menemani Mas Dzakir memesan gitar di Purbalingga. Setelah jadi, saya hanya berani menyentuh dan mencoba memainkan gitar tersebut pada saat Mas Dzakir pergi ke sekolah, karena saya tahu Mas Dzakir, merawat gitarnya dengan sangat apik dan hati-hati.
Satu ketika secara tidak sengaja, saya memutuskan dawai gitar. Saya sangat takut Mas Dzakir akan marah besar. Tapi kenyataanya justru ketika saya bicara jujur, bahwa sayalah yang memutuskan dawai gitar, mas Dzakir menjadi tahu bahwa saya punya minat untuk belajar memainkanya.
Dan dari Mas Dzakirlah pelajaran cord pertama saya dapat. Maka sejak saat itu kami berdua sama-sama merawat gitar sederhana berwarna hitam dengan lukisan pegunungan, yang sesungguhnya membawa tuah untuk kehidupan saya kelak.

Mas Dzakir, Saya dan beberapa temen, pernah membentuk band bocah dengan nama “Band Kenari” di kampung. Satu saat, kami tampil di satu acara yang cukup besar dan bergengsi untuk ukuran kampung. Saya diserahi tugas memainkan bas betot. Ada kelucuan yang masih saya ingat dengan baik.
Saya terpaksa harus naik di atas bangku untuk bisa memaikan bas betot yang tingginya dua kali lipat dari tinggi tubuh saya.  Dan untuk tampil serasi, saya harus mengenakan celana panjang putih, tetapi karena saya tidak punya, maka  saya pinjam dari Mas Dzakir, sudah pasti ukuranya kebesaran dan kepanjangan. Tetapi saya tidak kurang akal, dibagian pinggang, celana saya lipat kebelakang, kemudian saya kait dengan “peniti”, sehingga dari depan nampak pas tapi kedodoran dibagian belakang.

Bagian menariknya adalah, ketika saya sedang unjuk kebolehan memainkan solo bas betot, dengan semangat yang menggebu-gebu, saya tidak sadar bahwa peniti di celana saya terlepas! Celana saya melorot, yang tentu saja mengundang tawa sekaligus applaus. Saya tetap melanjutkan rangkaian atraksi bas betot sampai tuntas, meskipun dengan celana melorot, dan kaki kesemutan karena berusaha menahan celana supaya tidak meluncur habis.
Nah, itulah barangkali cikal bakal sikap profesional yang sudah mampu saya tunjukkan sejak kecil.

Dalam kehidupan se hari-hari, saya lebih banyak di bimbing oleh Ibu,
karena, Ayah  bertugas sebagai Camat di daerah Batur yang letaknya di sekitar pegunungan Dieng, dan hanya di akhir minggu beliau pulang kampung. Sesekali saat liburan sekolah, saya di ajak beliau ke Batur. Tempat yang sejuk dengan hamparan pohon tembakau, sekumpulan candi-candi dan pemandangan alam yang sangat indah. ( Kelak, ketika terjadi bencana gas beracun di kawah Dieng yang menewaskan ratusan orang, saya menciptakan lagu - Berita Kepada Kawan-).

Tahun 1966, Setelah tamat Sekolah Dasar, saya di “paksa” masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negri) Banjarnegara. Untuk berangkat ke sekolah, setiap pagi saya harus naik sepeda sejauh kurang lebih 12 kilometer.
Sampai beberapa bulan kemudian, ayah dipindah tugaskan ke kantor kecamatan Banjarnegara. Saya ikut dengan beliau tinggal di rumah Uwa Tari, didaerah Ngelos, tetapi kemudian saya memilih dan di izinkan kost dirumah Uwa Bangi, yang letaknya lebih dekat dengan sekolah.
 
Di PGAN, saya merasa sangat “tersiksa”. Tetapi tetap saya jalani kurang lebih selama satu setengah tahun. Sampai akhirnya saya tidak kuat, dan memutuskan untuk mogok dan “berhenti”. Dari pergulatan batin dan keletihan rohani atas “pemaksaan” yang harus saya jalani, saya masih tetap merasa mendapat ngelmu yang kelak menjadi bekal sangat berharga dalam menjelajahi belantara hidup. 
Berkah dari “siksaan” yang saya alami, antara lain adalah, sikap perlawanan dan berontak yang sangat kuat. Yang kemudian menggumpal menjelma menjadi energi positif di kelak  kemudian hari.

Intinya saya merasa mendapat hikmah yang sangat besar, sebab dari “pemaksaan” itulah, saya merasa nyali dan keyakinan diri saya tumbuh. Dan kelak membentuk saya menjadi anak yang  tegar, teguh pada pendirian, nyaris idealis dan mandiri.
Saya yakin, sikap dan sifat seperti itulah yang merupakan bagian terpenting dalam membentengi diri untuk mampu bertahan, dan “Ada” sampai saat ini.
 
Setelah keluar dari PGAN tahun 1968 akhir, saya berangkat ke Jogjakarta untuk melanjutkan ke SMP. Betul bahwa Wanadadi adalah tempat saya lahir dari rahim Ibunda tercinta. Tetapi Jogjakarta adalah tempat kelahiran saya yang kedua. Di Jogjalah saya digembleng masuk kedalam “kawah candradimuka” kehidupan. Di Jogjalah kemudian, rasanya saya menemukan bentuk, kematangan karakter dan kepribadian saya seutuhnya.

SMP saya jalani dengan normal-normal saja.Artinya saya selesaikan 3 tahun dengan nilai biasa-biasa saja. Saya tamat SMP, tahun 1971. Ada beberapa hal yang masih saya ingat adalah, sejak SMP saya sudah terbiasa dengan hanya memiliki satu buku.
Memang disiplin saya bersekolah sangat buruk, akan tetapi selalu punya kiat dan keyakinan, yaitu setiap kali menghadapi ulangan - asalkan saya tahu kapan waktunya - maka saya akan belajar sekeras-kerasnya, untuk mendapat nilai terbaik.
Satu saat, salah seorang guru pernah berkata kepada murid-murid lain, “Jangan pernah meniru cara Abid bersekolah, karena akan memerlukan kedigdayaan dan nyali yang sangat tinggi untuk tidak tinggal kelas dan dipecat dari sekolah!” ( Janan/Jar’an, salah satu sahabat saya di SMP pernah mengungkapkan tentang ini, pada saat pertemuan alumni MUHI thn 2006,  yang lalu ). Dan entah karena apa, ada kecenderungan saya di sayang oleh guru-guru perempuan, tetapi selalu dibenci guru olahraga, karena saya malas dan jarang ikut pelajaran olahraga.
Kebiasaan “buruk” itu, saya bawa bahkan semakin menjadi-jadi sampai di SMA.

SMA, adalah masa-masa jiwa pemberontak saya mencapai puncaknya.
Pada tahap ini, saya sudah mulai menulis puisi meskipun hanya saya simpan di dalam laci.
Posisi saya di sekolah tidak terlalu menonjol tetapi “unik”dalam pengertian positif. Disiplin belajar berantakan, tetap dengan hanya memiliki satu buku untuk tiga tahun masa belajar, tetap ber-rambut gondrong meskipun dilarang. Tetapi ajaibnya, saya mampu menyihir beberapa guru terutama ibu-ibu guru dan kawan-kawan, untuk melindungi saya dari segala resiko dan hukuman.
Mereka rela mencatatkan aneka mata pelajaran di dalam “buku ajaib” milik saya, menjemput saya untuk di boncengkan dengan sepeda - belakangan dengan sepeda motor - atau jalan bersama-sama ke-sekolah.  
Kalau tidak ada yang menjemput, saya lebih memilih tidur, atau membaca buku-buku dari berbagai disiplin ilmu, karena tempat pemondokan dimana saya tinggal,  dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa dari ber-bagai fakultas, di Universitas Gajah Mada.
Ini barangkali  yang membuat saya kadang-kadang nampak lebih “tahu banyak hal” ketimbang teman-teman lain di sekolah.
Kemudian seperti biasa, pada saat-saat menjelang ulangan atau ujian saya akan belajar mati-matian, dengan meminjam “paksa” buku-buku pelajaran dari kawan-kawan saya.
Saya selalu punya keyakinan, apabila saya mau, maka saya pasti bisa! Keyakinan yang tidak sepenuhnya benar, tetapi setidaknya telah terbukti  bisa menyelamatkan saya dari tinggal kelas atau bahkan di pecat dari sekolah.

Banyak kawan-kawan saya di SMA yang termasuk dalam deretan
“penyelamat”. Diantaranya, Mashari Mahasyi dan Mbah Wir.
Mbah Wir (kalau tidak salah nama aslinya Wiryanto) termasuk yang sering berbaik hati mengisi“buku ajaib”dan membawa pulang ke rumahnya apabila saya bolos. Saya dengar mereka berdua telah di panggil pulang ke haribaan Illahi. Saya selalu berdoa dan yakin bahwa arwah orang-orang baik hati ini, telah berada di surga.

Saya juga  bersahabat dengan Nasruddin dan Adil Amrullah, keduanya adalah adik kandung Emha. Dari merekalah saya kemudian mengenal Emha, atau Cak Nun.

Penolong sejati saya di SMA yang berkaitan dengan bersekolah, antara lain menyangkut info mata pelajaran, info tentang guru yang tersinggung karena saya nyelonong keluar saat ia mengajar, sampai info bahwa saya sudah beberapa bulan terlambat membayar uang sekolah, bahkan rumahnya menjadi kantin gratis, terutama saat saya mulai bokek karena kiriman dari kampung datang terlambat.

Ia adalah  Amzadi. Ia yang paling setia menjemput saya, meminjamkan buku, merelakan rumahnya saya datangi setiap saat (Orang tua Amzadi sangat baik dan ikhlas). Amzadi sering membuatkan nasi goreng untuk saya. ( ini adalah akal bulus saya, selalu merayu dia untuk memasak nasi goreng, agar saya bisa belajar dari buku-buku pelajaran sekolah, dikamarnya yang sengaja saya kunci dari dalam, sampai saya merasa  siap untuk menghadapi  ulangan besok harinya!....maaf dan terimakasih  Ndung! – panggilan akrab saya untuk Amzadi -).

Amzadi & Istri, teman - teman SMA, Anas, dan Saya di Gerjen


Di teras depan rumah Amzadi, saya biasa bermain gitar sampai larut malam. Rasanya dari sanalah jemari saya mulai terbiasa memainkan gitar. Dibelakang rumah Amzadi, tinggal/kost, anak kembar asal Binjai, Amir Warsyah, biasa dipanggil Wacha - pernah membuat album rekaman - dan kembaranya Hotmansyah. Mereka berdua sering menemani saya dan Amzadi. Saya dan Amzadi bermain gitar, sementara si kembar menyanyi dengan suara yang serasi, lembut, kompak dan bagus. Sementara saya sendiri, hampir tidak pernah menyanyi.  
Alhamdulillah sampai saat ini kami masih menjalin tali silaturrahmi dengan mereka, walaupun sekarang Amzadi bertugas di Kalimantan, Wacha di Jakarta dan Hotman di Surabaya.

Si Kembar Wacha & Hotman

Dirumah Amzadi juga tinggal/kost, Chasbiyanto, biasa saya panggil Yanto. Anak Salatiga yang ceria, dengan canda dan tawanya yang spesifik, ia  juga termasuk yang sering menjemput saya untuk ke sekolah. Sangat rajin belajar, sehingga sering berlagak lebih”pintar”dari saya.
Ia agak menyebalkan, karena tidak pernah merelakan bukunya saya pinjam!
Tetapi dia selalu ikhlas membantu saya dalam banyak hal.
Sampai sekarang silaturrahmi kami masih terjalin dengan baik, walaupun dia bertugas di Bontang.

Saya, Amzadi,Yanto dan Nurdianto(kawan SMA saya yang lain), pernah melakukan perjalanan avonturir ke Bali, tanpa modal. Kami berangkat dengan menumpang Truk, disambung  dengan menumpang Kereta Api tanpa tiket, tetapi gagal karena tertangkap Polsuska di solo balapan, kemudian melanjutkan dengan Truk pengangkut gula sampai Madiun dan dengan Truk yang lain ke Surabaya, dan akhirnya dengan berbagai cara, termasuk berjalan kaki, kami sampai juga di Bali.
Banyak pengalaman menarik selama di perjalanan.
Saya ingin menceritakan perjalanan  avonturir ini secara tersendiri pada tulisan lain.

Di SMA, saya lumayan di kenal karena tergolong siswa “langka”.
Kesekolah hanya dengan satu buku, tetapi mampu bertahan sampai akhir.
Juga mungkin karena saya sok ikutan sibuk, bersama Adil, Nasruddin, Masyhari, Anwar, Teguh dan kawan-kawan lain, mengelola majalah sekolah“Forum”.
Selain itu, saya juga tergabung dalam group “Folk Song” yang  pada saat itu sedang menjadi trend maka otomatis pelakunya menjadi populer. Seingat saya, anggota grup folk song ini antara lain adalah Anwar(Awang), ia yang paling sibuk mengkoordinir kawan-kawan, kemudian Amzadi,Yanto, Anas, Bambang anak Borobudur yang suka ngebut dengan motor, Anwar Hudaya adik kelas tapi sering di ajak karena punya semangat dan bakat, atau karena dia punya motor yang sangat membantu mobilitas kami, serta beberapa anggota perempuan yang sungguh, saya lupa nama-namanya.
Saya juga agak lupa peran utama saya di group ini, tetapi melalui group inilah barangkali awal dari keterlibatan saya dalam kelompok musik, dimana saya sudah mulai nampak cikal bakal ke“star”an saya. Peran saya pasti fungsional, terbukti kalau saya tidak bisa datang untuk latihan, maka latihan batal!
Agak sombong dan ge-er memang, tapi itulah kenyataanya.

Oh ya… Saya ingat, pernah dalam acara ulang tahun MUHI yang diselenggarakan di gedung GKBI Gondomanan Jogja, saya di daulat
oleh teman-teman untuk menyanyi. Saya memberanikan diri menyanyikan lagunya Elton John. Lagu rock dengan judul “Crocodile Rock”.  Dan itu adalah pengalaman pertama dan satu-satunya, saya tampil menyanyi dipanggung di iringi Band Rock yang cukup terkenal di Jogja.

Kawan-kawan SMA, tentu tahu “kelebihan dan kekurangan” saya, selama bersama melewati masa-masa eksplorasi identitas.
Tidak adanya fokus cerita tentang “hubungan khusus” saya dengan teman-teman wanita, bukan karena saya ingin menyembunyikan fakta, akan tetapi pada saat itu, saya  mungkin kurang layak jual alias tidak laku. Atau dari sudut pandang yang lain, saya memposisikan diri“jual mahal”.

Kalaupun secara serampangan berkali- kali saya setengah menjalin hubungan, atau dalam istilah saya “hubungan sambil lalu”, ujung-ujungnya selalu, saya-lah yang kemudian  memutuskan hubungan secara sefihak. Karena saya sadar bahwa saya bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Atau bisa jadi karena saya tidak mau, perburuan saya mengejar identitas, terganggu dengan rengekan pacar yang polanya selalu menuntut kehadiran kita saban waktu. Dan artinya sebagian kebebasan telah terampas.

Pacar menurut saya pada saat itu, ibarat penjerat kaki ketika kita tengah ingin berlari.
Yah, ini lebih merupakan pembelaan diri, supaya saya tidak turun pamor, karena tidak punya stok cerita romantis  di masa-masa SMA. Tapi biarlah itu menjadi rahasia saya dan orang-orang yang menjadi pelaku drama romantis dengan saya.
Mudah-mudahan kawan-kawan SMA saya, tidak ada yang me-revisi bagian ini, karena dengan jujur saya ingin mengatakan bahwa, pada saat itu “pacaran” bukanlah prioritas, sehingga saya banyak lupa dengan siapa saya menjalin hubungan, termasuk nama-nama, apa, siapa, dimana, kapan, sejauh mana dan bagaimana.
Selain itu, saya juga tidak ingin ada yang meradang, karena merasa saya “lupakan”.

Masa-masa itu, banyak “kenakalan-kenakalan” saya yang lain, akan tetapi belum mau saya tulis disini, karena saya masih ingin menikmatinya sendiri sebagai kenangan “manis” dan “getir”. Selain itu, saya juga khawatir akurasi cerita dari sudut pandang saya, menjadi polemik berkepanjangan dan mungkin berpotensi me”lukai”seseorang.

Tetapi saya ingin menyatakan, bahwa saya tidak pernah melakukan kenakalan yang menjurus ke arah kriminal, asusila atau melanggar norma-norma Agama.
Intinya, “kenakalan” saya dimasa SMA hanyalah jembatan atau medium ekspresi, atau menurut saya salah satu cara terbaik sebagai sarana eksplorasi dan merupakan anak tangga  menuju pembentukan kepribadian.

Pada saat saya masuk di kelas dua SMA tahun 1973, saya sudah mulai bergaul dengan seniman-seniman muda Jogja, pintu masuknya adalah Emha.
Dialah yang memperkenalkan saya dengan dunia kesenian secara menyeluruh. Saya mulai sering bertandang ke Kadipaten lor, tempat pemondokan Emha dan adik-adiknya. Dikamar Emha yang berserakan  dengan buku-buku dari berbagai topik, dengan “aroma” yang sangat spesifik, saya banyak memanen referensi untuk berbagai hal, dan rasanya dari sanalah langkah kesenimanan saya bermula.

Emha, adalah saudara, sahabat, kakak, konsultan dan penuntun serta sering kali ia berperan juga sebagai “juru bayar”atau pegadaian untuk kami yang ngumpul di Kadipaten lor.

Keterlibatan saya dengan kawan-kawan seniman yang mulai intens, nyaris menghentikan langkah saya ke sekolah.
Ada peristiwa penting yang hampir lolos dari  perhatian  saya, yaitu  ujian akhir SMA.
Saya tahu akan diselenggarakan ujian, saya sudah menyelesaikan syarat-syarat administrasinya,  tapi saya lupa kapan persisnya ujian dilaksanakan.
Hari “H” ujian akhir, saya beruntung ingin ke sekolah, bukan untuk ikut ujian, tetapi karena saya kangen dengan nasi pecel dan peyek teri di kantin.

Saya terkejut bukan kepalang ketika ternyata, hari itulah ujian di selenggarakan. Dengan berbagai upaya, dan tentu atas bantuan guru-guru pelindung, serta teman-teman penyelamat saya, akhirnya… Bismillah saya ikut ujian akhir tanpa persiapan apapun!.
Alhamdulillah, karena saya mengawalinya dengan Basmallah, maka Tuhan menyelamatkan saya dari kegagalan. Saya lulus ujian dengan nilai yang cukup baik. Trimakasih untuk para dewa penolong, dan kelezatan makanan di kantin. Karena rindu kelezatan peyek teri maka saya selamat dari kegagalan yang sangat muskil!.
 
Tahun 1974, saya tamat dari SMA Muhamadiyah I Jogja.
Saya bermaksud melanjutkan kuliah ke Universitas Gajah Mada, atau ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Akan tetapi bertepatan dengan itu, ayah saya pensiun dan kakak saya sedang sangat membutuhkan biaya untuk menyelesaikan kuliahnya.
Ayah memberi dua pilihan :  akan membiayai kuliah saya, dengan catatan harus sungguh – sungguh kuliah, dan meninggalkan komunitas berkesenian yang pada saat itu mulai saya masuki. Atau :  menunda sementara kuliah saya, yang artinya saya bebas melakukan kegiatan kesenian dan mengembangkan diri saya di luar jalur akademis.

Saya, Sonny, dan Heru di depan kampus UGM

Saya sangat percaya, bahwa ilmu tidak hanya bisa di “panen” dari institusi pendidikan resmi, ia bisa dipetik dari buku-buku, dari pergulatan dalam aneka diskusi, menyimak petuah para cendekiawan dan jutaan referensi dari berbagai media lain yang sesungguhnya berserakan di sekeliling kita. Walaupun sebenarnya saya masih tetap menyimpan “bara impian”, bahwa satu saat kelak, saya akan mampu membiayai kuliah dari hasil keringat saya sendiri.
Maka dengan tegas, saya menyatakan mengambil opsi kedua. Yaitu menunda sementara kuliah saya.
Pilihan ini, pada saat itu dianggap tolol, absurd dan tidak masuk akal oleh salah seorang kakak saya. Tetapi sekarang ia selalu  mengatakan, bahwa pilihan saya tepat dan merupakan“berkah”.

InsyaAllah, sesungguhnya inilah  jalan terbaik yang telah di persiapkan Tuhan untuk saya.