BAGIAN III


Setelah beberapa bulan di kampung, menyerap energi kebersahajaan, menghirup udara segar dari wajah-wajah polos dan jujur, menikmati kasih  sejati dari kedua orang tua dan seluruh kerabat, menepi dari gemuruh kegusaran dan amarah, merebahkan seluruh indra, melepas seluruh kepenatan, memperbaiki sel-sel tubuh dan fikiran,
maka saya siap kembali berangkat ke medan laga.

Jogjakarta tetap menjadi tujuan terbaik.
Keberangkatan saya ke Jogja kali ini, benar-benar dengan dibekali restu dari Ayah dan Ibunda tercinta. Mereka mulai memahami keinginan serta mengizinkan saya menjadi apapun, asalkan saya tetap teguh memegang syariat agama dan meng-implementasikanya dalam setiap gerak dan langkah-langkah saya.
Bekal restu, ternyata lebih dari cukup, karena saya merasa apapun yang saya kerjakan, maka doa dari orang-orang yang saya cintai selalu menyertai dan setiap saat, saya merasa terlindung dan terjaga.

Kembali ke Jogja, saya tetap tinggal di Kadipaten wetan, tetapi dengan kamar yang berbeda, saya menempati kamar yang lebih sempit, pengap dan berhimpitan dengan kamar anak baru yang belum saya kenal.
Saya berusaha menyesuaikan diri dengan ber macam-macam karakter dari seluruh penghuni, terutama mereka yang belum mengenal sepak terjang  saya.

Saya dan teman - teman, di Jogjakarta '76


Beruntung, kawan-kawan lama, masih sangat menerima dan mendukung saya, bahkan semakin terasa akrab, mungkin karena pengalaman saya, sering menjadi bahan obrolan  menarik, dan saya merelakan diri menjadi sumber informasi baru bagi mereka. Meskipun status pengembaraan saya gagal, tetapi bukankah kegagalan adalah guru terbaik untuk kelak mencapai keberhasilan?

Saya mulai memperluas pergaulan. Saya berkawan dengan beberapa mahasiswa UII (Universitas Islam Indonesia), yang kebetulan sedang aktif membentuk kelompok musik, dan kebetulan salah satu motornya adalah Amzadi.
Saya dipercaya sebagai “konsultan” bagi mereka, saya tidak tahu persis apakah saya terpakai karena rekomendasi Amzadi, atau karena “kehebatan” saya tercium oleh mereka.
Amzadi membuat lagu semi tradisional yang diberi judul Nasi Tumpeng. Saya ikut membantu membuat aransemen, walaupun dengan ilmu yang pas-pasan tetapi hasilnya cukup baik, terbukti grup ini beberapa kali manggung, bahkan pernah tampil di TVRI Jogja.
Saya ingat beberapa anggotanya adalah perempuan cantik-cantik, tetapi seperti biasa, saya lupa nama-nama mereka, dari mana, dan apa yang terjadi ketika saya berada bersama mereka. Sekali lagi saya sungguh-sungguh “lupa” karena saya tidak mau melukai siapapun.
 
Tetapi yang pasti adalah, secara mental saya merasa mendapat pengesahan, bahwa meskipun saya bukan mahasiswa, tetapi saya diberi kepercayaan oleh kawan-kawan atas dasar kemampuan saya, bukan karena status kroni sesama mahasisiwa.

Saya menjalin persahabatan dengan kelompok lain,
Mereka adalah, Edy Sulistyo, termasuk kakak dan adik-adiknya, putra putri
Pakde Ruyono, seorang pengusaha peternakan ayam dan hotel yang sukses.
Juga dengan Nizam Effendy, pria flamboyan yang banyak ide bisnis, Ircham, Jundi serta beberapa teman lain. Dengan mereka, saya sering berkumpul di Jalan Parangtritis. Dari kumpul-kumpul, mereka membentuk usaha kontraktor”Puri Teknik”yang dikomandani Nizam Effendy, dimana saya kelak pura-pura-nya menjabat sebagai “komisaris”.

Ada lagi satu kelompok anak-anak Jakarta yang kuliah di UPN, mereka rela menjadi sahabat-sahabat saya. Sonny, Eko, Heru, Boy, Dedy, Glady, Ary, Opung, Agus item, dan beberapa teman lain. Sampai saat ini saya tidak tahu persis pertimbangan mereka ketika memberi tempat kepada saya untuk se-olah-olah masuk dalam kelompok mereka, yang salah satu kegiatanya adalah motocross, dengan nama sangar “Extreme team”.
Ajaib memang, tetapi sekali lagi begitulah adanya.

Saya (pegang gitar), dengan Extreme Team

Sementara itu persahabatan saya dengan Emha, Karta - panggilan untuk EH Kartanegara - dan Eko Tunas terus berlangsung dan semakin erat.
Bahkan saya lebih sering tidur di Kadipaten lor, tempat pemondokan Emha, daripada di di Kadipaten wetan, tempat saya sendiri.

Setelah kembali dari pengembaraan yang gagal di Jakarta, saya mungkin lebih terbuka dan mudah ber adaptasi. Sehingga saya mampu membina persahabatan dengan beberapa kelompok sekaligus, yang pola dan irama serta tata cara bergaulnya sangat kontras.

Tetapi, justru ini adalah salah satu anak kunci dari keberhasilan saya melawan kekalahan. Dengan beberapa kelompok berbeda inilah, secara tidak sengaja, saya sesungguhnya tengah membangun sinergi yang sangat dahsyat. Terbukti atas bantuan mereka, dengan caranya masing-masing, di area lingkunganya masing-masing, dengan visi-nya masing-masing,  secara perlahan mereka mendorong, menyeret, dan kemudian mengantarkan saya menjadi “orang” yang lumayan dikenal di seluruh Indonesia, bahkan di beberapa negara lain.

Dengan Emha, Karta dan Eko Tunas, saya belajar sangat banyak. Mereka tidak pamrih membantu saya, terutama Emha. Selama saya bergaul dengan mereka bertiga, sebenarnya saya tidak pernah aktif memperlihatkan apa yang saya buat. Saya lebih banyak menikmati dan menyerap pelajaran-pelajaran berharga yang secara tidak sengaja mereka peragakan di depan saya.
Saya sangat menikmati peran saya, memang terkadang saya kelihatan tidak pas berada dantara mereka karena saya kelihatan lebih ”klimis”. Mengapa demikian, karena saya berusaha untuk bisa menyelam kedalam beberapa komunitas sekaligus tentu  saya sering terjebak dalm situasi yang kurang pas.
Memang sesekali saya bisa sangat salah kostum, artinya saya dengan kostum seniman tetapi bekeliaran di antara para crosser atau sebaliknya.

Suatu hari, para seniman muda Jogja menyelenggarakan pertemuan yang cukup besar di rumah joglo yang terletak di Kadipaten lor. Setiap pertemuan biasanya di isi dengan diskusi dan diteruskan dengan pentas seni, oleh masing-masing kelompok atau perorangan.
Beberapa hari sebelumnya Emha mengatakan kepada saya untuk ikut tampil di acara tersebut. Pada umumnya penampilan reguler adalah membaca puisi. Emha, Karta dan Eko sudah siap dengan puisi-puisi yang akan dibaca. Dari PSK, Deded dan Meniek juga akan tampil dengan musikalisasi puisi karya-karya Umbu Landu Paranggi.
Nah bagaimana dengan saya?

Secara berseloroh saya berkata kepada Emha, bahwa saya akan coba membuat melodi dari puisi Emily Dickinson, penyair wanita kelahiran Massachussets, Amerika serikat, yang berjudul Nobody, yang kebetulan bukunya tengah saya baca.
Ternyata Emha menyambut dengan antusias, ditimpali dorongan sangat kuat dari Eko Tunas. Dan gongnya adalah Karta, ia yakin bahwa suara saya akan “melibas” penampil lain, pendapat yang bombastis tetapi terbukti memberi spirit dan energi, dan mungkin membangitkan indra ke-enam saya.

Saya terbakar. Semalam suntuk saya tidak tidur. Saya terus berusaha menggumamkan Nobody dengan iringan gitar. Sebenarnya saya tidak faham samasekali pola penciptaan lagu. Saya hanya mengandalkan intuisi, mengalir dan mempercayai naluri puitik yang terus menggelegak dari rongga dada saya.

Nobody berhasil saya buat menjadi nyanyian dalam semalam!
Saya merasa seperti penyihir sekaligus komposer besar. Saya betul-betul telah menggubah lagu , sesuatu yang sebelumnya hanya bersifat main-main, dan sebatas coba-coba.
Esok paginya, saya membangunkan mereka lebih dini dari biasanya, hanya untuk memperdengarkan hasil gubahan saya.
Ketika mereka bangun, saya perdengarkan Nobody dengan penuh penghayatan.
Entah apa yang sesungguhnya ada dalam fikiran mereka saat itu, tetapi verbal mereka mengatakan apa yang saya senandungkan, bagus.
Bahkan secara spontan, Emha dengan suaranya yang serak-serak basah menimpali suara saya dengan mengambil suara dua, dan beberapa menit kemudian, kami seperti duo, menyanyikan lagu yang melodinya sepenuhnya adalah hasil kreasi dan luahan imajinasi saya.

Memang kalau sekarang saya nyanyikan kembali, Nobody terasa masih sangat prematur, keliwat sederhana untuk ukuran standar sebuah lagu.
Tetapi seberapapun kekuranganya tidak menjadi soal, setidaknya saya telah berani menjajal intuisi dan naluri bermusik saya, yang selama ini tersembunyi, terkubur oleh keinginan dan ambisi saya yang lain.
Sungguh, Nobody adalah sebuah langkah awal yang tak terduga, tak terfikir, tak tergambarkan.  Saya tidak tahu, apa yang ada dalam benak sahabat-sahabat saya ketika secara terus menerus saya menyanyikan Nobody.
Saya menduga, mereka bosan tetapi tetap membiarkan saya me layang-layang.

Mengapa saya terus-menerus, ber ulang-ulang menyenandungkan Nobody ? Sesungguhnya saya takut kehilangan memori atas nada-nada dan harmoni yang sudah berhasil saya rangkai.
 
Satu lagu, menurut saya belumlah cukup untuk tampil dalam satu acara. Saya mencoba mencari-cari puisi Emily Dickinson yang lain, tetapi ternyata tidak satu puisi-pun yang memungkinkan untuk saya senandungkan. Kemdian saya minta puisi-puisi Emha. Ia memberikan beberapa puisi pendek. Salah satunya berjudul “Kubakar Cintaku”. Setelah membaca dua baris pertama, saya yakin bahwa inilah puisi yang pas untuk menemani Nobody.

Lagu kedua ternyata tidak mudah. Barangkali karena saya terpaksa harus lebih hati-hati, sebab si penulis puisi, bisa saja seketika mencabut izin apabila merasa puisinya menjadi kehilangan ruh ketika saya nyanyikan.
Meskipun ter bata-bata, akhirnya “Kubakar Cintaku” selesai juga saya buat melodinya. Dan dengan modal dua buah lagu, rasanya saya sudah layak dan percaya diri untuk ikut ambil bagian sebagai penampil.

Saat pertemuan seniman tiba. Seluruh energi saya kumpulan untuk menghadapi ujian yang sesugguhya. Mereka yang hadir pada hari itu, adalah para seniman muda yang penuh gairah, kritis dan tidak segan-segan mencerca atau sebaliknya memuji.
Mereka adalah sekumpulan orang-orang jujur dan kreatif, dan saya harus menampilkan kebolehan saya menyanyi sambil memetik gitar. Sungguh satu momen yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan.

Seingat saya, dalam pertemuan di Kadipaten Lor, saya tampil agak di penghujung, mendekati akhir acara. Saya sudah sangat letih dan turun gairah karena menunggu dengan tegang dan kebetulan saya sedang  terkena selesma.
Ketika tiba giliran, saya agak gugup dan sedikit gemetar, saya berusaha keras menajamkan konsentrasi, terutama pada petikan gitar yang rasanya kebetulan berbeda dengan penampil lain yang umumnya memainkanya tidak dengan cara dipetik.
Mungkin inilah salah satu kunci sukses penampilan pertama saya, petikan gitar menjadi pengantar yang sangat efektif untuk menyedot perhatian para pengunjung. Ketika saya mulai menyanyi, suara saya sangat berbeda dengan penampil lain. Lengkingan suara saya, terutama ketika mengambil nada-nada tinggi, nampaknya telah memancing antusias seluruh peserta pertemuan.

Singkat cerita, penampilan saya menyanyikan puisi Emily Dickinson dan Emha Ainun Najib terbilang sukses. Applaus dan sanjungan dar kawan-kawan, memberi dorongan dan rasa percaya diri yang sangat kuat, dan penampilan itulah yang menjadi tonggak pertama yang saya tancapkan, serta menandai bemulanya saya fokus dengan Musikalisasi Puisi atau dalam istilah saya, membaca puisi dengan melodi.

Setelah itu, saya dan tentu saja Emha, Eko serta Karta, mulai di undang untuk acara-acara yang bersifat apresiatif. Kebanyakan di kampus-kampus  dan institusi lain yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan. Beberapa yang masih sangat saya ingat antara lain adalah di Karta Pustaka Jogja. Saya tampil berdua dengan Emha. Saya memainkan gitar dan harmonika serta menyanyi, sementara Emha meniup blockflute dan sesekali menimpali nyanyian saya. Kami merasa mendapat kehormatan besar, dan memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat maksimal. Applaus sangat antusias.
Kesempatan lain yang masih sangat membekas dalam ingatan saya adalah, ketika kami diminta untuk mengisi bagian apresiasi seni di dalam rangkaian Ramadhan Kampus Universitas Gajahmada di Bulaksumur. Saya dan Emha mempersiapkan diri lebih matang dari biasanya, karena kami sadar ini adalah tempat para mahasiswa berkumpul, shalat tarawaih bersama, ceramah dan ujungnya menampilkan seni Islami. Seingat saya ada beberapa pengisi acara. Saya dan Emha sangat yakin bahwa seperti biasanya kami akan mendapat sambutan meriah.
Tetapi ternyata, yang terjadi adalah, ketika kami menuju podium, secara perlahan jamaah serta para peserta meninggalkan tempat. Bahkan ruang hampir kosong saat kami belum melakukan apapun.
Ketika kami selesai mempersiapkan diri, mengatur microphone, menata posisi duduk dan mengucapkan salam, rasanya tinggal belasan orang yang masih setia duduk menonton kami, dan itupun ternyata adalah teman-teman seniman yang memang selalu berkumpul ketika salah satu dari kami tampil.
Itulah pengalaman pahit pertama yang untuk saya menjadi pelajaran yang sangat berharga, bahwa mungkin pendekatan penampilan kami pada saat itu sangat jauh dari harapan para jamaah tarawih.

Akan tetapi, setahun kemudian ketika kami tampil kembali dalam acara yang sama, ruang aula penuh sesak dan antusiasme para jamaah telah berubah. Kami telah mampu menaklukkan Bulaksumur.

Dengan Kelompok Sanggar Bambu, saya pernah manggung di Universitas Brawijaya Malang. Saya ingat pada saat itu saya sangat akrab dengan penulis muda Adie Massardi. Ia adalah adik kandung penyair kembar yang sangat produktif Yudis dan Noorca. Adie kemudian pernah menjadi salah satu juru bicara Bapak Abdurachman Wachid atau yang lebih sering dipanggil Gus Dur saat beliau menjabat sebagai Presiden.
Pertemanan kami berlanjut sampai kami sama-sama tinggal di Jakarta.

Saya mulai produktif “menulis lagu”. Saya sebut demikian, karena walaupun beberapa penyair menerima dan menghargai syair-syair yang saya buat pantas disebut sebagai puisi, akan tetapi ada yang berpendapat lain.
Awalnya saya terganggu dan gamang dengan posisi satu kaki di wilayah “seni”dan sebelah kaki yang lain di wilayah”pop”.
Kegamangan saya berjalan cukup lama, bahkan seingat saya sampai album rekaman saya yang ke tiga, saya masih merasa bahwa dunia pop, bukanlah dunia saya. Saya menduga bahwa saya hanya lewat sejenak, dan kemudian saya akan kembali ke habitat lama saya.
Saya berfikir, bukankan proses penulisan lirik dan penyelarasan dengan melodi sehingga tercapai harmoni adalah ritual yang sangat puitik? Apalagi ketika kemudian saya menggumamkanya dengan ekspresi total. Ah.. Saya tidak ingin menjadi siapa-siapa, terserah para kritisi menyebut saya apa, dan masyarakat menempatkan saya dimana.
Yang penting saya terus berkarya, dan masyarakat tidak mencemooh karya-karya saya.

 

Perjalanan dan pengembaraan intuisi saya terus berlanjut, saya menutup telinga terhadap pendapat yang saling silang. Saya memilih menyingkir dari komunitas agar saya tidak mandul karena merasa di kerdilkan.

Kebetulan, Eko Tunas mengajak saya ke kampung halamanya Tegal. Gelora kreatif saya sedang membara, tetapi atmosfir di sekeliling saya terasa mulai kurang kondusif.
Ajakan Eko seperti menyiramkan air ke ilalang yang mulai lunglai. Serta merta saya setuju, karena ada pilihan lain yang membawa dua kemungkinan implikasi yaitu,  kesenimanan saya semakin layu, atau suasana baru akan menggugah dan membangkitkan naluri saya untuk terus melaju.

Alhasil, beberapa bulan saya tinggal di Tegal dirumah Keluarga Eko Tunas. Saya ingin bercerita banyak tentang apa yang saya kerjakan di Tegal, tetapi saya ingin mengkonfirmasikanya dulu dengan Eko Tunas sahabat saya yang sekarang tinggal di Semarang, agar apa yang saya tulis betul-betul akurat.

Ketika saya sedang berada di Tegal, rupanya Karta juga pulang ke Pekalongan. Ia menghidupan teater di kampungnya. Saya bersama Eko Tunas di undang ke Pekalongan. Di dua kota ini saya banyak mendapat pengalaman.

Eko dan keluarganya serta Karta dan keluarganya adalah orang-orang yang sangat berjasa bagi saya pada masa-masa itu. Mereka berdua sangat memahami kesepian saya, dan mungkin mereka melihat potensi tersembunyi yang saya miliki. Saya sungguh-sungguh menjadi seperti bagian dari keluarga mereka, saya diperlakukan layaknya saudara.

Sesekali kami ke Jogja menyambangi Emha. Seingat saya ia mulai dekat dengan seorang gadis. Kami agak segan berkumpul di Kadipaten Lor, meskipun Emha samasekali tidak berubah, tetapi kami sadar bahwa ia memerlukan ruang privasi, dan kami tidak ingin selalu mengganggunya.

Diluar itu, persahabatan kami terus berlanjut. Emha semakin laju dengan kesenimananya. Tulisanya bertebaran di berbagaia media, dan semakin sering ditanggap membaca puisi.

Satu kesempatan, saya dipercaya dan di utus oleh kawan-kawan dari IMAYO (Ikatan Mahasiswa Yogyakarta) untuk mendatangkan “Konser Rakyat Leo Kristi” ke Jogja. Nuki Nugroho, yang menjabat ketua pelaksana, meminta saya menghubungi dan sekaligus membuat ikatan kerja dengan
Leo Kristi. Maka, meskipun belum faham apapun tentang negosiasi dan tetek bengeknya, saya bersama Eko berangkat ke Surabaya.
Kami berdua sungguh-sungguh tidak cukup bekal, baik pengetahuan membuat kesepakatan, maupun tentang kota Surabaya itu sendiri.
Tetapi dengan gayanya yang khas, Eko meyakinkan saya, bahwa di Surabaya ia punya saudara, dan nanti kami tidak perlu khawatir tentang penginapan dan akomodasi.

Yang kami tuju pertama adalah rumah penyanyi wanita yang tergabung dengan kelompok Leo Kristi. Lita dan Jilly, yang seingat saya tinggal di jalan Darmokali.
Ketika kami datang, sambutan mereka sangat mengesankan. Keluaraga mereka sangat baik, bahkan mengizinkan kami bermalam dirumahnya, meskipun penampilan kami sangat kumal dan dekil.
Saya ingat, adik laki-laki Jilly namanya Jonathan selalu menemani kami.
Saya menduga, Jonathan selalu menguntit kami untuk ber jaga-jaga, kalau-kalau kami ini pencuri, penipu, seniman gadungan atau sejenisnya.
Singkat cerita, esok harinya kami bertemu Leo Kristi di rumahnya, menjalin kesepakatan, membuat janji dan hal-hal lain. Ketika pamitan, Leo bertanya dimana kami menginap, dengan reflek kami berdua menjawab bahwa kami menginap di Hotel. Padahal sesungguhnya kami berharap Leo menawari kami untuk bermalam di rumahnya.
Pamit dari rumah Leo Kristi, kami kebingungan hendak kemana.
Alamat saudaranya Eko sangat tidak jelas, apalagi hari sudah menjelang malam, uang dikantung sudah menipis.

Entah ber-awal darimana, tiba-tiba kami sudah ngobrol hangat dengan tukang becak, yang mengaku bernama Kliwon (setelah saya menjadi penyanyi, saya pernah mencari Kliwon, tetai tidak pernah ketemu.).
Ia menawarkan diri untuk mengantar kami mencari alamat saudarany Eko, dengan imbalan yang sangat murah. Saya lupa didaerah belahan mana Surabaya, tetapi seingat saya, lokasi pencarian masih sangat sepi, hanya ada beberapa komplek perumahan.

Ber putar-putar kami mencari, tetapi gagal.
Tetapi ada hal istimewa yang terjadi. Kliwon dengan setengah memaksa menawarkan kepada kami, untuk bermalam di rumah bedengnya.
Kami sangat terkejut dengan ke-ikhlasan Kliwon. Kami tidak mampu menolak tawaran yang sangat simpatik dan tulus.
Yang lebih luar biasa lagi, malam itu Kliwon membelikan kami nasi bungkus, sementara kami belum membayar ongkos becaknya.

Betapa dahsyatnya Kliwon. Ia tidak mengenal kami. Ia bukanlah orang yang berkelebihan, bahkan sangat kekurangan. Tetapi ia rela meminjamkan bedengnya, bahkan membelikan makanan untuk kami. Sementara ia tidur meringkuk di becaknya di pinggir jalan.
Kliwon termasuk manusia langka yang luar biasa yang pernah saya temui dalam perjalanan hidup saya.

Ada peristiwa yang cukup menyeramkan di bedengnya. Tengah malam ketika kami tengah berjuang untuk tidur karena harus bertempur dengan nyamuk, tiba-tiba terjadi keributan di bedeng sebelah yang hanya dibatasi triplek tipis.
Awalnya hanya perang mulut dengan bahasa madura yang kebetulan kami samasekali tidak tidak faham. Awalnya kami masih menduga yang terjadi adalah percakapan biasa. Akan tetapi beberapa waktu kemudian, terjadi adu fisik. Kami mencoba tetap tenang, walaupun sesungguhnya kami sangat khawatir, karena Kliwon tidak ada bersama kami. Kami orang asing dan samasekali tidak mengenal satupun penghuni bedeng kecuali kliwon.
Adu fisik yang terjadi kelihatanya ber darah-darah, samar-samar kami dengar, penyebabnya adalah soal perzinahan.

Kami bernasib baik, karena kami tidak terlibat atau di libatkan dalam percekcokan yang terjadi. Kami bertahan diam tidak beranjak dari dalam bedeng. Akan tetapi semalaman kami tidak tidur, karena kami sungguh khawatir keributan akan berlanjut dan menjadi besar, dan kami yang tidak tahu menahu masalah, bisa menjadi kambing hitam.

Itulah pengalaman berharga penuh warna dengan ilustrasi dan seting yang sangat mengesankan, penuh pembelajaran, dari tokoh “Kliwon” manusia langka yang naif, ikhlas, dan tulus.
Tetapi sekaligus kami mendapat pengalaman yang mencekam dan mengerikan.
Trimakasih Kliwon!

Keesokan harinya, Kliwon berhasil mengantar kami ke rumah saudaranya Eko, yang ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari Bedeng Kliwon.
Sekali lagi…..Trimakasih Kliwon.

Kami berhasil menjalankan tugas dengan baik.
Leo Kristi dan grupnya bersedia pentas di Jogja.
Pengalaman yang cukup berharga telah saya peroleh. Saya mulai faham seluk beluk dunia pentas musik.

Dibalik itu ada cerita menarik yang selama ini saya simpan sendiri. Tetapi rasanya tidak ada salahnya sekarang saya berbagi.
Ceritanya, ketika saya negosiasai dengan Leo, saya membuat kesepakatan gentelman agreement. Bahwa apabila saya berhasil memboyong Konser Rakyat Leo Kristi ke Jogja, saya akan mendapat imbalan prosentase, dari pembayaran honor untuk mereka, dan menurutnya, ini adalah hal biasa, legal dan bukan perbuatan tercela. Tentu saja saya setuju dan dengan gembira  menyambutnya.

Ada cerita lucu yang terselip dan entah mengapa sangat  kuat melekat di kepala saya.
Kisahnya adalah, pada waktu itu saya tengah sangat gandrung untuk memiliki celana “jeans” yang harganya tak mungkin terbeli dengan kondisi keuangan saya yang pas-pasan.
 
Tetapi karena saya yakin dan pasti akan mendapat uang “prosentase” yang jumlahnya menurut hitungan saya cukup dan rasanya tidak mungkin meleset, maka dengan gagahnya saya beranikan diri ber-hutang kepada Nanang.
Ia kebetulan baru dapat kiriman bulanan dari orang tuanya di Kraksaan, Probolinggo.
Dan segeralah, dengan penuh kegembiraan, “jeans” saya beli.

Akhirnya, Konser Rakyat Leo Kristi manggung di Jogja. Pada saat itu anggota kelompok Leo Kristi adalah, Leo sendiri, Naniel, Mung, dan dua penyanyi wanita Lita dan Jilly.
Saya sebagai salah seorang panitia tentu sibuk kesana- kemari untuk mensukseskan acara. Saya laksanakan tugas dan kewajiban saya dengan ringan dan santai, karena saya merasa lebih gagah dan percaya diri dengan mengenakan “jeans” baru.

Singkat cerita, acara sukses besar. Panitia untung, semua senang, termasuk saya tentunya.

Tinggal dua hal yang masih belum beres yaitu soal prosentase yang tak kunjung datang,  dan saya harus segera bayar utang.

Semua yang menjadi kewajiban dan tugas saya telah tuntas, pembayaran sudah lunas, akomodasi dan lain-lain yang menjadi tanggung jawab saya dalam ke-panitiaan juga sudah saya urus dengan se baik-baiknya.

Sampailah ke detik-detik menjelang keberangkatan Leo dengan grupnya  pulang ke Surabaya. Saat itu menjadi saat yang sangat menegangkan buat saya, karena saya merasakan sesuatu yang mulai tidak nyaman. “Jeans”.
Ia mulai terasa sempit dan gatal.  

Beberapa menit sebelum mereka berangkat, saya naik ke atas Bus. Bersalaman dengan seluruh anggota kelompok, saling mengucapkan salam perpisahan, tersenyum bahagia atas Konser yang sukses.

Nah, ketika saya bersalaman dengan Naniel, selembar amplop terselip di tanganya. Alhamdulillah…. mereka tidak lupa!

Mereka berangkat dengan melambaikan tangan, dan tentu saja saya membalas dengan antusias, apalagi di kantung “jeans” telah terselip amplop, dan “jeans” kembali terasa nyaman saya pakai.
 
Sesampainya di asrama saya buka amplop dengan penuh suka cita…..
Dan memang ada beberapa lembar uang yang sangat saya harapkan, tetapi  aduh Mak…. Jumlahnya sangat jauh dari harga “jeans” yang sudah terlanjur saya beli!

Saya tertawa ter-bahak-bahak di depan Nanang dan kawan-kawan lain. Mentertawakan kebodohan saya sendiri, karena rasanya saya telah salah hitung! Atau setidaknya sampai sekarang saya tetap berkeyakinan bahwa sayalah yang salah hitung.

Pelajaran yang saya petik dari peristiwa ini adalah “ Janganlah berhutang untuk membeli sesuatu yang memang belum mampu kau beli.”
Dan minta tolonglah kepada kalkulator kalau memang tak pandai berhitung di luar kepala.

Sungguh, peristiwa ini saya tulis bukan untuk melukai siapapun. Se mata-mata karena saya tidak bisa lupa, betapa karena kebodohan dan keteledoran saya, akhirnya saya harus tunggang langgang mencari cara untuk mengembalikan pinjaman, karena Nanang sudah sangat memerlukan uangnya untuk membayar kuliah.

Untuk sahabat-sahabat saya, Leo, Naniel, Mung. Saya mohon maaf, kalau cerita ini saya tulis, sama sekali tidak terselip maksud lain. Saya sangat menghormati anda-anda, seniman-seniman tulen yang konsisten dan langka.
Cerita ini sungguh menjadi kenangan sangat manis bagi saya.
Betapa bahagianya saya pada saat itu, ketika berhasil mendatangkan “Konser Rakyat Leo Kristi” ke Jogja dan sukses besar.
Sesungguhnya saya telah memperoleh banyak sekali pengalaman berharga di dunia pertunjukan, yang sebelumnya tidak saya fahami.

Trimakasih juga atas pelajaran tidak langsung dalam bidang manajemen, yang telah membekali saya, untuk selalu menelaah secara detail setiap isi perjanjian. Dan sejak saat itu, saya selalu menyelipkan kalkulator kecil di kantung celana saya, karena terbukti beberapa kali membantu menyelamatkan saya dari jebakan dalam deal-deal bisnis.
Dan sejak saat itu, saya seperti orang yang pandai berhitung.