Sepenggal Ebiet G. Ade

Pada awal kemunculan, Ebiet G. Ade tak hendak mematut diri sebagai penyanyi. Ia lebih nyaman disebut penyair. Walau begitu, tak salah jika kita sekarang menyebutnya penyanyi sejati yang dengan karakternya menorehkan
catatan emas dalam perjalanan perkawinan peraknya.

Suatu hari pertengahan 1960-an, seorang guru sekolah dasar bernama Pak Daryono, harus menghukum dua muridnya yang sering melanggar jam istirahat dan menolak mengerjakan prakarya. Mereka lebih senang memainkan gitar dan meniup seruling ketimbang bertekun-tekun di balik bangku kelas.

Hari itu, kesabaran Pak Daryono habis sudah. Si A dan si B harus dihukum. Caranya, si A disuruh membuat peta Pulau Jawa dan si B mencetak peta Indonesia. Hukuman yang produktif tentu, karena peta berbahan bubur kertas bercampur adonan tepung kanji sebagai perekat itu, memang dibutuhkan untuk dipajang di ruang kelas sebagai peraga pelajaran geografi.

Akal sehat dan motorik kita akan mengatakan, membuat peta Pulau Jawa pasti lebih mudah.  Artinya, si A sebenarnya mendapat hukuman yang ringan-ringan saja. Namun ketika eksekusi itu dilaksanakan, si A ternyata tidak terima.  Dia justru lebih memilih membuat peta Indonesia yang rumit itu karena terdiri lebih dari 17 ribu pulau.

Pak Daryono yang tekaget-kaget, lantas bertanya, “Mengapa kamu memilih yang lebih sulit?” Dengan spontan, dan mungkin dengan campur tangan Tuhan, mulut si A berucap, “Karena saya akan terkenal di seluruh Indonesia”.

Cerita di SD Negeri Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah itu memperoleh pembenaran pada hari Ahad 20 Mei tahun 1979. Si A yang kerempeng seperti papan itu, menggedor langit Indonesia melalui acara Album Minggu Ini di TVRI. Ya, si A muncul di layar televisi mendendangkan dua tajuk lagu, Camellia 1 dan Lagu untuk Sebuah Nama.

Awalnya, langgam yang didendangkan itu seperti tak bertenaga, karena tidak diantar ingar-bingar perkakas musik. Bahkan, lagu yang lebih mirip senandung itu, tenggelam oleh kecantikan Anna Tairas, wanita yang menjadi model klip Camellia 1 itu.

Namun, kekuatan syair dan kemenyatuannya dengan dendang dan irama menjadikan lagu-lagu gubahan si kerempeng itu meledak. Album  Camellia 1 melewati angka penjualan 500 ribu kopi kaset. Prestasi yang waktu tercatat sebagai rekor.

Si A itu, kini kita kenal dengan nama panggung Ebiet G. Ade. Di kampungnya, dia dikenal dengan panggilan Abid, penggalan dari nama panjang Abid Ghoffar . Orangtuanya, Aboe Djafar,  memberi nama Abid kepada anak bungsunya karena lelaki sederhana dan taat beribadah itu ingat salah satu nama sahabat Nabi Muhammad saw.

Pada periode awal kemunculannya, Ebiet tak hendak mematut diri sebagai penyanyi, apalagi artis yang sekarang menjadi sangat denotatif dengan kegeriapan dan kemonceran duniawi. Lelaki yang lahir 21 April 1955 ini lebih senang disebut sebagai penyair. Alhasil, istilah musikalisasi puisi kembali mendapat ruang dan kerlingan berkat keterampilannya memusikkan (atau lebih tepat melagukan) puisi.

Influensi bermusiknya pun berujung virus kelatahan. Jagat Indonesia tiba-tiba menjadi kaya dengan musikalisasi puisi. “Ebiet Ebiet” baru bermunculan meski dengan cengkok yang dipaksa-paksa ngebiet dan puisi yang sangat layak diperdebatkan kadar puitisasinya.Kita ingat waktu itu muncul nama-nama Toar Tangko, Endar Pradesa, Tommy J. Pisa, dan Jamal Mirdad.

Kerongkongan dan pita suara Ebiet mungkin bisa ditiru-tiru. Tapi, satu hal yang tidak bisa didupklikasi adalah kekuatan syairnya. Meski dengan diksi yang sederhana, dalam banyak hal, kata-kata yang dipilihnya bermakna sangat langsung dan mudah dimaknai, namun ketika rangkaian kata-kata itu disimpulkan dalam satu frame makna, pembaca (pendengar) bisa kesulitan dibuatnya. Yang tersisa hanya kepenasaran dan sejumlah orang menyebut misteri. 

Tetralogi Camellia sangat laras kita baca dan dengar, tetapi siapa sebenarnya sosok Camellia itu, hanya penasaran yang mengendap di sanubari. Rangkaian kata dalam lagu Dia Lelaki Ilham dari Sorga sangat gampang kita maknai, tetapi ketika diminta menyimpulkan apa (siapa) yang dimaksud lelaki ilham dari sorga itu, sensorik kita akan tersendat memutuskannya. Juga lagu terpendek yang pernah ia gubah, Dua Menit Ini Misteri  pun hanya menyisakan misteri bagi kita.

Ihwal misteri yang melambung-lambung itu, Ebiet  berujar, “Saya diberi kesempatan untuk mengkhayal. Karena itu, saya ingin tidak tanggung-tanggung mengkhayal.  Rugi kalau saya mengkhayal secara tanggung”.

Misteri makin lindap ketika kita menyimak syair-syair yang merekam pergulatan Ebiet dengan Tuhannya. Tuhan, bagi Ebiet adalah deskripsi rohani yang personal dan tak pernah ada habisnya. Di album Camellia 1 (1979), dia dengan jujur mengatakan “Pernah kucoba melupakan Kamu”.

Pada album 1984  (tahun 1984) melalui Bingkai Mimpi, Ebiet mengaku lancang karena berusaha menggambar Tuhan. Setelah menyatukan garis-garis dan mengumpulkan titik-titik, yang tampak hanya watak yang beringas dan rona yang geriap. Tuhan tak tampak-tampak juga. Pada titik kulminasi rohani, Ebiet akhirnya menyerah dan sadar bahwa upaya menggambarkan wajah Tuhan adalah kelancangan.

Begitu terus-menerus upaya Ebiet mengalirkan Tuhan dalam darahnya. Sampai album Bahasa Langit (2001) ia masih  merindui Tuhannya melalui Rindu KehadiranMu yang berpenggalan berapa banyak kanvas yang kugores lukisan wajahMu. Namun tak pernah dapat kureka keteduhanMu

Karena Tuhan “mengalir dalam darah” maka dia bisa  dengan entengnya menyapa Tuhan dengan Kamu. Pernah kucoba untuk melupakan Kamu dalam setiap renunganku....  Betapa “sembrononya” dia, sudahlah menyebut Tuhan dengan Kamu, lupa keberadaan Tuhan pula.

Kini, sudah 19 album rekaman ia gubah, dari Camellia 1 hingga  In Love: 25th Anniversary  yang dirilis April 2007.  Ruang untuk daya kreatifnya mungkin telah menyempit. Ebiet kini bukan lagi seorang diri. Bersama kehidupannya, telah ada Yayu Sugianto (istri)  dan empat anaknya Abietyasakti Ksatria Kinasih, 24 tahun, Aderaprabulantip Trengginas, 21 tahun, Byatriasa Pakarti Linuwih, 20 tahun, dan Segara Banyu Bening, 17 tahun.

Masa suburnya berakhir tahun 1988 ketika ia menerbitkan album Sketsa Rembulan Emas. Masa setelah itu, ia lebih suka mendaur ulang lagu untuk kemudian dicangkokkan satu atau dua lagu baru guna dikodifikasi dalam sebuah album.

Meski ia tak lagi produktif, karya Ebiet G Ade tak pernah mati. Jumlah album kompilasinya, misalnya, justru melebihi jumlah album regulernya. Hingga kini, tak kurang 25 album kompilasi yang sebelumnya direkam berbagai studio rekaman, mampir ke kuping kita. Berita kepada Kawan selalu dikabarkan tak pernah henti, melintasi berbagai generasi, dari generasi TVRI yang hitam putih, hingga abad semarak televisi swasta.

Meski kualitas vokalnya masih terjaga, Ebiet kini tampaknya menyanyi untuk sebuah hobi. Pada album terakhir, In Love itu, ia bahkan  melibatkan anak-anaknya, dan juga teman anaknya, komposer Anto Hoed. Album yang memang didedikasikan untuk keluarganya: ya kado untuk perkawinan peraknya dengan Yayu Sugianto.

Dalam album pamungkas itu, ia tak lagi mencari-cari Tuhan. Atau ketika inti Tuhan adalah kasih sayang, ia mungkin tak perlu lagi mencari karena itu semua sudah ada pada orang-orang tersayang di sekitarnya.

( Budi Winarno, Jurnas edisi 3 juni 2007 )