Pengembaraan Batin Anak Jawa

Menimbang Ebiet laksana menekuri perjalanan panjang.
Sebuah laku batin, beribu tapak, beribu lorong, beribu simpang.

Peluh, debu, darah, nista, onak, duri, nestapa, getir,  bahagia, kerjap-kerjap cinta, dan puisi. Berkelindan, bersirubuk, bertaut-taut. Seluruh realitas dimakzulkan, mengendap dalam jiwa, terpantul  lewat kata, puisi, sajak, senandung Ebiet G. Ade.Ia tak semata menampilkan hasrat muda. Menyala-nyala, menggelegak, bergelora, menggenggam sejuta impian, bertualang birahi.

Dalam satu tarikan nafas mendadak ia menarik diri, menubuatkan eksistensi asketis, ketika batu-batu, semak-semak, gadis-gadis, dan orang-orang menyingkir, takjub, meresapkan sari pati kata untuk beroleh hikmah dari Lelaki Ilham dari Surga.

Sebagai anak desa, ia sudah semestinya kepincut   padang rumput, ilalang, laut, gunung, lembah, angin, padi, pokok cemara, bocah-bocah, kesengsaraan. Dalam pengembaraan, ia menafsir makna dari orang-orang terpinggirkan, pengemis, gelandangan, pekerja migran, manusia mati perdata, orang-orang kalah, asmara terluka.

Kedalaman, kebeningan, kesabaran, kewasisan, menuntun pencaharian hakikat hidup, bukan dengan ekspresi protes, gusar, keluh-kesah, menceracau. Ia mengembalikan semuanya ke Dia, sang Mahaperkasa, sang Mahakasih.

Pada titik ini, Ebiet G. Ade, sejak kiprahnya lewat Camelia I, sesungguh-sungguhnya tetaplah seorang anak desa, lebih khusus lagi anak Jawa pedalaman yang menafsir alam, manusia, dan semesta dari pandangan khas anak-anak muda Jawa yang beroleh sangu dari orangtua, diwariskan secara turun-temurun, sejak zaman yang belum terlalu rusuh.

Ketika desa adalah dusun, asri, sejuk dengan kecepak air bening, perempuan berkebaya, gadis-gadis berambut panjang, orang tua tampil sebagaimana mestinya manusia matang, dan anak-anak muda berbakti, menghargai setiap tetes peluh dan kerut di daki sang ayah, dan menyelami kebajikan masa lampau. Pendeknya, tatkala kemunafikan belum lagi bersimaharajalela.

Dan ia pun merasa aneh, tak terpesona dengan bau wangi, gemuruh pesta, ingar-bingar musik (seperti lesung ditalu) hasrat kaya dan kuasa, kecuali pada seorang gadis kecil berambut panjang yang piawai memetik dawai-dawai gitar. Ia justru bisa dengan cepat dan mudah memenuhi permintaan seorang puteri, membuat narasi panjang memilukan, untuk ayah tercinta dan kebanggaannya, seorang nakhoda kapal yang merelakan nyawanya dijemput maut, dalam musibah paling dramatis di tengah samudera, tragedi terbakar dan tenggelamnya kapal Tampomas II, 1984.

Ia pun tak segan mengungkapkan pembelaannya pada mereka yang mengalami kematian perdata, yang kesulitan menawarkan namanya dari ke pintu ke pintu, demi terhenti tangis anak dan keluh ibunya. Hanya karena masyarakat lebih menghargai “pahlawan” padahal Tuhan di atas sana tak pernah menghukum. Pada para wanita paria, yang menjual tubuh dan kehormatannya, dan para buruh yang mengais rezeki di kota sambil memandangi potret istri dan anaknya di kampung halaman.

Pada kategori ini Ebiet punya tandingan setara, Iwan Fals, yang menggugat lewat nada liris: Bento, Ujung Aspal Pondok Gede, Sore Tugu Pancoran, juga Bung Hatta. Pada keduanya mencuat tipikal khas pemusik yang hirau pada realitas sosial-kemasyarakatan, pada absennya keteladanan. Yang membedakan, Iwan Fals maju dengan lirik dan genre khas anak kota , sedangkan Ebiet tetaplah dengan Jawa dan Yogyanya.

Namun Ebiet tak hanya menyentak kesadaran lewat pilihan kata bernas dan kaya makna, ia juga mengimbau meski dengan suara lemah lewat Untuk Kita Renungkan, dan bernasihat “kepada yang berkuasa dan senang” untuk menghindari iri dan dengki.

Untuk generasi 70-an dan 80-an, lagu-lagu Ebiet boleh jadi adalah mantra, penguat semangat, pelipur lara, pengawas sukma. Ia berkumandang di jutaan gendang telinga dan lorong batin anak muda, di kamar-kamar kos mahasiswa di Bogor, Bandung, Yogya, Semarang, Surabaya, Malang, dan kota lain, bahkan juga di Jepang dan Malaysia. Menyelusupkan relung kerinduan, kemantapan, kearifan menjalani hidup dan kesejatian.

Ia meniupkan kesejukan dan pengharapan pada mereka yang kalah, yang terseok-seok menggapai Tuhan, yang putus asa dihantam kesukaran, juga yang terpuruk dihempas asmara . Ia pun bersenandung perih:

ternyata mengagungkan cinta               

harus ditebus dengan duka lara

tetapi akan tetap kuhayati

hikmah sakit hati ini

telah sempurnakah kekejamanmu?

Para penggemarnya mungkin sepakat, periode keemasan Ebiet adalah masa-masa penciptaan album Camellia I sampai Camellia IV. Inilah masa Ebiet mereproduksikan ngangsu kawruh (belajar memaknai hidup) sebelum ia membangun bahtera rumah tangga. Pengembaraan panjang dan pergaulan sosialnya melahirkan karya-karya masterpiece, awet dan selalu dirindukan. Barangkali ini semua karena kedekatan dan pergulatannya dengan sumber inspirasi.

Ebiet tentu saja sebuah legenda yang menghadirkan musikalisasi puisi demikian liris, menghunjam, dan menguak inspirasi. Ia dapat disebut sebagai penafsir paling mengena dalam merekonstruksi perjalanan batin anak muda Jawa yang menjelajah ke negeri-negeri jauh, melesat dari gua garba ibu sejati dan ibu rohani, menjangkau mimpi merenda harap, sembari mencoba bersikukuh pada pegangan bijak dari masa lampau yang belum terlalu jauh.           

Pada puncak pendakian ia menemukan cinta yang utuh, jiwa yang bening, pasrah, dan matang memandang semesta.

kasih pun mulai deras mengalir

cemerlang sebening embun

( Suwidi Tono, Jurnas edisi 3 juni 2007 )