Ebiet G. Ade: Apresiasi Musik Indonesia Menurun!

Kalau disebut nama aslinya Abid Ghoffard Aboe Djafar, penulis yakin tidak banyak orang yang mengenalnya. Padahal, itulah nama yang diberikan oleh ayahnya yang bernama Aboe Ja'far. Tapi kalau penulis menyebut nama EBIET G. ADE siapa yang tidak kenal Bahkan generasi terkini dari penikmat musik pun masih mengenalnya. Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet. Entah terinspirasi dari mana, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghaffar Aboe Dja'far.

Padahal, tidak pernah dalam benaknya ketika masih kecil, cita-cita menjadi seorang penyanyi atau musisi. "Yang jelas, jiwa berkesenian saya memang sudah menonjol sejak saya masih kecil," ujarnya laki-laki kelahiran Wonodadi, Banyumas, Jawa Tengah, 21 April 1955 ketika diwawancara TEMBANG.com beberapa waktu lalu di sebuah kafe di Jakarta.

Cita-citanya waktu kecil cukup banyak, ingin jadi dokter atau insinyur. Sayangnya, semuanya tidak ada yang kesampaian, karena kemudian Ebiet memilih menjadi penyanyi. "Saya lebih suka disebut penyair sebenarnya," kilah ayah empat anak ini kalem. Membuktikan ucapannya ini, Ebiet mengaku tidak tahu siapa penyanyi sekarang yang terkenal. "Tapi kalau tanya soal penyair mana yang karya-karyanya layak diparesiasi, saya bisa jelaskan detil," tambah suami dari Yayu Sugianto ini.

Pengakuan yang wajar. Pasalnya, Ebiet muda tidak mengawali karirnya sebagai seorang penyanyi atau gabung sebagai vokalis band misalnya. Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta, 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Dikenal dekat dengan seniman Emha Ainun Najib, Eko Tunas, dan EH Kartanegara, malah sering kali melantunkan syair kawannya itu dengan petikan gitarnya. Malioboro adalah "rumah" Ebiet ketika kiprah kepenyairannya sedang diolah. "Memang, disana dulu tempat banyak seniman berkumpul dan saling berbagi," kenang Ebiet lagi.

Ketika akhirnya "terpeleset" menjadi penyanyi, Ebiet malah sama sekali tak pernah membawakan karya-karya sahabatnya, termasuk karya Emha. "Lagu saya sampai sekarang, ciptaan saya sendiri,' akunya. Lagu-lagu di awal karirnya lekat dengan derita wong cilik dan keseimbangan alam. Meski kini, tema-tema itu mulai kurang menemukan "rohnya" di tangan Ebiet.

Ada cerita unik dibalik hijrahnya Ebiet ke Jakarta. Konon, dulu Ebiet termasuk orang yang enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari tembok keraton. Setelah dibujuk dan diberi kesempatan untuk rekaman, Ebiet akhirnya bersedia pindah. Rekaman demi rekaman dilaluinya dengan sukses. Sempat juga ia melakukan rekaman di Filipina. "Untuk mencapai hasil yang lebih baik," katanya. Tetapi, ia menolak merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang, ketika ia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana.

Tahun 1982, Ebiet menikah dengan Yayu Sugianto, kakak dari penyanyi pop kondang 80-an, Iis Sugianto dan Nani Sugianto. Yayu sendiri sempat merilis album dan menelorkan hits 'Hujan' era 80-an. Kini Yayu menjadi ibu dari empat anaknya yang Abietyasakti Ksatria Kinasih, Adaprabu lantip Trengginas, Byatriasa Pakarti linuwih, Segara Banyu Bening yang beranjak dewasa.

Lagu-lagunya kemudian menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979 -1983. Ebiet pernah terpilih sebagai penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI 1989-1992, pemenang BASF Awards 1984 hingga 1988, dan penyanyi terbaik Anugerah Musik Indonesia 1997.

Sayang, Ebiet yang "gelisah" dengan Indonesia, akhirnya memilih "bertapa" dari hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Sepanjang tahun 1993, ia hanya mengeluarkan lagu Aku Ingin Pulang dan tahun 1995 disusul dengan Cinta Sebening Embun. Di akhir tahun 1996, Ebiet mengeluarkan album berjudul Kupu-kupu Kertas [sempat jadi theme song sinetron berjudul sama --red].

Tahun 2001, Ebiet sempat merilis album berjudul "BAHASA LANGIT" rilisan BMG. Tapi kemudian ini ditarik dari peredaran oleh Ebiet. Kok? "Waktu itu sasaran dan strategi promosinya kurang tepat sasaran. Kemudian tingkat apresiasinya juga tidak terlalu mengutungkan. Daripada nanti malah tidak diterima dengan baik, akhirnya saya putuskan untuk ditarik dari peredaran," jelas Ebiet lagi.

Album terakhirnya 'In Love: 25th Anniversary sebenarnya merupakan album persembahan khusus untuk istrinya. "Itu kado saya untuk 25 tahun pernikahan yang sudah kita lewati," terang laki-laki yang bahasanya santun ini. Album ini juga sebgai mediasi untuk membuat orang ingat keberadaan Ebiet yang masih eksis. "Bisalah disebut seperti itu, paling tidak orang tahu saya masih ada," ucapnya sambil tertawa kecil.

Ada beberapa hal yang disoroti oleh penyanyi yang "sedih" ketika lagu-lagunya dilantunkan ketika sedang terjadi bencana. "Sedih karena sudah disuarakan lama, tapi justri didengar ketika bencana itu sudah terjadi," tandasnya. Menyepi untuk kesekian kalinya, membuat Ebiet bisa mengamati perkembangan musik Indonesia yang makin marak ini. Menurutnya, secara musikalitas mungkin berkembang pesat. "Tapi ada yang hilang," tegasnya. Apa itu? "Apresiasi musik di Indonesia itu cenderung menurun dan hanya melihat sisi artifisialnya saja," kritiknya. "Terus terang, saya sebenarnya frustasi juga melihat perkembangan musik sekarang yang menurun itu," tegasnya.

Tanpa bermaksud jumawa, Ebiet melihat dari sisi kualitas karya, musisi zamannya hanya kalah pada persoalan kualitas sound saja. "Kalau misalnya diadu, saya pikir tidak kalah kok," ucapnya santai. Ebiet tidak sedang "menantang" karena justru sedang memotivasi musisi muda untuk memberikan karya yang lebih apik. Dituding susah kompromi dengan industri, Ebiet membantahnya. "Saya justru berusaha kompromi dari sisi musikal bekerjasama dengan musisi-musisi muda," imbuhnya. Misalnya di album terakhirnya ini, Ebiet menggamit Anto Hoed. Pengemasan lagu lama dengan aransemen baru itu adalah ‘Nyanyian Rindu’ dan ‘Camellia 3’ yang dulu diaransir Billy J. Budiardjo, dan kali ini diaransemen oleh Anto Hoed. Bagi Anto yang biasa menulis aransemen lagu-lagu karya isterinya, Melly Goeslaw, bekerja sama dengan Ebiet G. Ade adalah pengalaman baru. Awalnya Anto memakai dasar musik orkestra melalui sequencer [digital system], namun eksekusi akhirnya memakai orkestrasi yang digarap di Cina. Ebiet mengakui, ‘Nyanyian Rindu’, ‘Camellia 3’ dan ‘Demikian Cinta’ garapan Anto Hoed berbeda dengan 13 lagu lainnya dari album lama Ebiet, “Tapi nyawa lagu-lagu Ebiet G. Ade masih tetap ada, malah terdengar ada sound baru pada 3 lagu aransemen baru itu,“ pendapat Ebiet.

Idealisme yang dipertahankannya adalah, tidak menyanyikan lagu karya orang lain. Menurutnya, idealismenya inilah yang membuatnya bertahan. "Saya tetap menyanyikan lagu-lagu yang saya buat. Ini untuk mempertegas sosok saya sebagai pencipta lagu," tegasnya yakin. Meski begitu, Ebiet tak menampik jika kelak ada lagu-lagu karya orang lain yang "menggugah" hati untuk menyanyikannya.

"Saya tidak anti lagu orang kok," tambahnya. Kalau sekarang, masih menurut Ebiet, dirinya sedang ingin memanjakan hati nurani saja. satu hal yang menganggu Ebiet sekarang adalah penggiat seni sekarang tercabut akar budayanya. "Penggiat seni sekarang kehilangan akar budayanya dan tidak berkarya dengan suara hati!" ujarnya mengakhiri obrolan dengan TEMBANG.com

( Joko, Tembang.com )